Dilema dalam ‘Menghargai’ Tenaga Kerja

Krisis finansial 1997 yang melanda Asia Timur memberikan dampak besar bagi negara Indonesia. Tergerusnya nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar mengakibatkan perlambatan ekonomi yang signifikan, dan salah satu konsekuensinya berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif karena banyak perusahaan mengalami kebangkrutan sehingga tidak mampu membiayai tenaga kerja, adapun yang masih bertahan tidak mampu menaikan upah karena perekonomian tengah memburuk.

Dilihat dari perspektif dalam negeri tentu ini merupakan masalah besar, akan tetapi disisi lain bagi bisnis multi-nasional terdapat manfaat keuangan tersendiri, khususnya pada efisiensi biaya tenaga kerja buruh di Indonesia. Menjadi pertanyaan bagi kami untuk mengetahui lebih lanjut apakah perekonomian saat ini sudah dapat mengembalikan kondisi tingkat upah kembali seperti pada saat pra-krisis.

Prof. Jeffrey Winters, dari Universitas Northwestern Amerika, dalam dokumenter yang diproduksi dan dipublikasikan oleh John Pilger memberikan pernyataan terkait harga buruh Indonesia pasca krisis finansial. Berikut ini adalah kutipan yang dimaksud.

“…when the Indonesian Rupiah collapsed from being roughly 2.500 Rupiah to the Dollar to being what it is now 10.000 Rupiah to the Dollar. The cost to Nike for each Indonesian labour was cut to 25% of what it had been, and Nike got a great discount on Indonesian labour as a result, and did not unilateraly raise Indonesian wages to the same standard they had been prior to the devaluation of the Rupiah.” 
- Proffesor Jeffrey Winters, The New Rulers of ther World, 2001 -

Sekilas kutipan diatas mengacu pada satu contoh perusahaan multinasional yang berproduksi di Indonesia, namun kami mencatat poin penting yaitu devaluasi Rupiah memberikan kontribusi terhadap penurunan standar biaya tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan upah riil buruh yang diukur dengan Dollar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang tahun 1996 sampai tahun 2014 terkait  Indeks Upah Nominal buruh industri Indonesia berada di angka 1.176,68 atau senilai Rp 2.174.800,-. Artinya secara nominal, data rata-rata upah menunjukan peningkatan 12 kali lipat dalam kurun waktu 18 tahun.

Indeks Upah Riil Buruh Industri Indonesia dalam US Dollar Tahun 1996-2014
Sumber : https://www.bps.go.id/statictable/2010/01/08/1441/ihk-dan-rata-rata-upah-per-bulan-buruh-industri-di-bawah-mandor-supervisor-1996-2014-1996-100-.html , diolah 2019.

Indeks Upah Riil dalam Rupiah juga meningkat 2 kali atau sebesar Rp 341.600,- pada tahun 2014 untuk periode data yang sama. Angka-angka tersebut menunjukan tren positif. Namun jika dibandingkan dengan upah Riil dalam US Dollar (lihat gambar) pertumbuhan indeks tidak secepat yang diperkirakan yaitu 43,71 atau meningkat 28,17 dari titik terendahnya pada Juni 1998 (15,54). Informasi Ini membenarkan pernyataan sebelumnya bahwa upah buruh Indonesia mendapat ‘diskon’ karena sampai saat ini tidak sampai pada level yang sama sebelum krisis, sedangkan ironisnya dari tahun ke tahun upah hampir selalu dinaikan.

Selama keadaan ini masih berlanjut dapat dipastikan bahwa pada setiap perayaan Hari Buruh di negeri ini akan terus diaspirasikan mengenai peningkatan Upah Minimum Regional (UMR) dan stigma cheap labour atau buruh murah dari kacamata bisnis internasional belum bisa kita lepaskan karena masih terdapat potongan harga lebih dari 50% untuk setiap tenaga kerja Indonesia.