Wabah 'Zombie' dalam Perspektif Kesehatan Keuangan

Bagi penikmat cerita Horor mungkin sudah tidak asing dengan zombie yang umumnya diceritakan sebagai mayat busuk, tidak memiliki kecerdasan namun memiliki nafsu untuk mengkonsumsi manusia normal yang lain dan menambah populasinya. Sesuai dengan penggambarannya konsep ini menggambarkan kondisi dimana sesuatu entitas tidak dapat dikategorikan hidup maupun mati didalam definisi kehidupan. Adapun pada penghujung milenial konsep ini diterapkan kedalam perekonomian.

Zombie company atau perusahaan zombie, yaitu istilah bagi perusahaan yang tidak mampu membayar bunga pinjaman apalagi pokok pinjaman hutang dari pendapatan, setelah dikurangi biaya operasional. Marak digunakan pada periode “Lost Decade” di Jepang sekitar tahun 1990, dan pada krisis kredit “Subprime Mortgage“ tahun 2008 dimana banyak perusahaan masuk kedalam kategori tersebut dan menimbulkan krisis ekonomi padahal suku bunga (interest rate) dianggap sudah rendah. Dua peristiwa tersebut menjadikan terminologi ini mulai lazim digunakan sebagai indikator kesehatan finansial institusi.



Berdasarkan artikel berjudul “Asia's 'zombies' concentrated in India, Indonesia and South Korea” yang ditulis oleh Tomohiro Noguhi, staf penulis Nikkei pada 11 Agustus 2019 menyoroti peningkatan jumlah perusahaan yang posisi keuangannya berada dalam keadaan 'zombie' satu dekade pasca 2008 karena dikhawatirkan dapat melemahkan perekonomian dunia. Dalam artikel tersebut Nikkei melakukan analisa terhadap 26,000 perusahaan terdaftar dengan mengesampingkan institusi finansial di berbagai negara diantaranya Jepang, Amerika Serikat, Eropa, China dan beberapa negara di Asia menggunakan data dari QUICK FactSet. Kami mencatat di Indonesia sendiri peningkatan jumlah perusahaan zombie cukup signifikan yaitu naik 11 persen atau meningkat nyaris 2 kali lipat dalam kurun waktu pengamatan dan menjadi indikasi bahwa wabah ini bertambah parah dari kondisi sebelumnya.
"The ratio of zombie companies has risen especially fast in India, Indonesia and South Korea. They accounted for 26% of the total in India, up 13 points from a decade earlier; 24% in Indonesia, up 11 points; and 18% in South Korea, up 4 points."

Pemaknaan dalam skala keuangan yang lebih kecil

Menurut ekonom senior Rizal Ramli, untuk bertahan hidup banyak perusahaan zombie di Indonesia melakukan pembiayaan kembali atau refinancing hutang untuk menjalankan operasional dengan potensi resiko gagal bayar bila dilakukan dalam jangka panjang. Hal ini mirip dengan perilaku "gali lubang tutup lubang" yang umumnya dilakukan oleh nasabah kredit finansial dimana hutang baru digunakan untuk menutupi hutang yang lain.

Berdasarkan pengamatan kami Fenomena tersebut mulai muncul bersamaan dengan penggunaan kartu kredit dan berbagai instrumen pembiayaan lain, dan pemberitaan terkait korban pinjaman online di awal tahun ikut memperkuat pesan bahwa wabah zombie juga dapat terpapar pada skala keuangan personal maupun institusi lebih besar, yang membedakan bagi kasus "gali lubang tutup lubang" ini adalah faktor bunga pinjaman yang tinggi sehingga cepat mengganggu keuangan. Dengan demikian kami menyimpulkan bahwa penerapan bunga didalam pembiayaan hutang, terlepas dari proporsi atau persentasenya dari pokok pinjaman, akan memerangkap kesehatan keuangan kedalam kondisi zombie. Besaran bunga hanya mempengaruhi kecepatan penjangkitannya dan penularannya.